Program Studi S1 Farmasi dan Pendidikan Profesi Apoteker Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang (FIKES UMM) menyelenggarakan Seminar Nasional Farmasi dan Apoteker pada Selasa, 23 Desember 2025, bertempat di Aula GKB V Universitas Muhammadiyah Malang. Kegiatan ini menjadi forum ilmiah strategis untuk memperkuat pemahaman tenaga kesehatan mengenai penggunaan antibiotik yang rasional serta tantangan resistensi antibiotik di kawasan Asia Tenggara.
Acara secara resmi dibuka oleh Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UMM, Dr. apt. Hidajah Rachmawati, S.Si., Sp.FRS, serta dihadiri oleh Ketua Program Studi S1 Farmasi, Dr. apt. Ika Ratna Hidayati, S.Farm., M.Sc., dan Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker, Dr. apt. Engrid Juni Astuti, S.Farm., M.Farm., bersama dosen, mahasiswa, dan praktisi kefarmasian. Seminar dipandu oleh Dr. apt. Rizka Novia Atmadani, M.Sc selaku moderator yang mengarahkan diskusi secara interaktif dan aplikatif.
Materi pertama disampaikan oleh apt. Eko Setiawan, S.Farm., M.Sc., Ph.D. (Fakultas Farmasi Universitas Surabaya/UBAYA) dengan topik “Perkembangan Resistensi Antibiotik di Asia Tenggara dan Dampaknya terhadap Praktik Klinis dan Masyarakat.” Paparan menunjukkan tren peningkatan signifikan resistensi patogen utama seperti Klebsiella pneumoniae, Acinetobacter baumannii, dan Staphylococcus aureus resisten yang berdampak pada meningkatnya angka kematian, lama rawat inap, serta beban biaya kesehatan. Disampaikan pula urgensi penerapan pendekatan One Health dan penguatan antimicrobial stewardship lintas fasilitas pelayanan kesehatan guna mencegah krisis terapi di masa depan.
Materi kedua disampaikan oleh apt. Irsan Fahmi, M.Farm., Klin. (Universitas Muhammadiyah Malang) dengan topik “Rasionalisasi Penggunaan Antibiotik di Indonesia.” Pemaparan menekankan pentingnya penggunaan antibiotik yang tepat indikasi, dosis, dan durasi, serta peran strategis Antimicrobial Stewardship Program (ASP) dalam menekan laju resistensi antimikroba. Data nasional menunjukkan masih tingginya penggunaan antibiotik yang tidak rasional, termasuk peredaran antibiotik tanpa resep dan penggunaan antibiotik spektrum luas di fasilitas kesehatan yang tidak sesuai ketentuan. Dalam konteks ini, apoteker klinis memiliki peran sentral melalui audit penggunaan antibiotik, pra-otorisasi, serta edukasi kepada tenaga kesehatan dan pasien.
Melalui seminar ini, FIKES UMM menegaskan komitmennya dalam mendukung upaya nasional pengendalian resistensi antimikroba dengan memperkuat peran akademisi dan apoteker sebagai garda depan penggunaan antibiotik yang bijak. Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran, kompetensi, serta kolaborasi multidisiplin dalam menjaga efektivitas antibiotik bagi generasi mendatang.
