Perkuat Mutu Internasional, Prodi Farmasi dan Profesi Apoteker UMM Targetkan Akreditasi Unggul

MALANG – Program Studi Farmasi dan Pendidikan Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menunjukkan komitmen baja dalam memantapkan posisinya di peta pendidikan tinggi kesehatan internasional. Melalui gelaran “Pelatihan Penguatan Mutu Prodi yang Berorientasi Internasional” pada Selasa, 28 April 2026, kedua prodi ini secara resmi mencanangkan peta jalan menuju predikat Terakreditasi Unggul dengan standar rekognisi global. Kegiatan yang dihadiri oleh seluruh jajaran dosen dan tenaga kependidikan (tendik) secara (hybrid) ini menjadi momentum krusial untuk menyamakan persepsi mengenai standar mutu terbaru. Acara dibuka dengan penuh semangat oleh Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker UMM, Dr. apt. Engrid Juni Astuti, S.Farm., M.Farm., yang menekankan bahwa kualitas bukan lagi sekadar pilihan, melainkan identitas yang harus melekat dalam setiap proses akademik di Kampus Putih. Hadir sebagai pakar utama, Prof. Dr. apt. Daryono Hadi Tjahjono, M.Sc.Eng. dari Sekolah Farmasi ITB, membedah secara mendalam urgensi dari sebuah rekognisi internasional. Menurut Prof. Daryono, rekognisi internasional bukanlah sekadar sertifikat di atas kertas, melainkan sebuah pengakuan formal atas validitas dan level akademik sebuah institusi pendidikan di mata dunia.“Rekognisi adalah perwujudan dari kepercayaan terhadap mutu (Trust in Quality). Ketika sebuah prodi diakui secara internasional, itu artinya sistem penjaminan mutu kita telah memberikan basis yang kokoh bagi lulusan untuk dapat bersaing, baik dalam melanjutkan studi maupun mencari peluang kerja di tingkat global,” papar Prof. Daryono di hadapan peserta. Beliau menggarisbawahi bahwa institusi pendidikan tinggi memainkan peran sentral dalam menentukan standar kompetensi lulusan agar setara dengan kerangka kerja global, seperti yang ditetapkan oleh International Pharmaceutical Federation (FIP) melalui Global Competency Framework tahun 2020. Dunia akreditasi di Indonesia, khususnya melalui Lembaga Akreditasi Mandiri Perguruan Tinggi Kesehatan (LAM-PTKes), sedang mengalami transformasi besar. Dr. Rina Wahyu Setyaningrum, S.Pd., M.Ed., narasumber dari UPT Akreditasi dan Pemeringkatan UMM, menjelaskan adanya pergeseran instrumen dari yang sebelumnya bersifat kuantitatif menjadi kualitatif dengan fokus pada 8 kriteria utama.Perubahan ini menuntut program studi untuk tidak hanya hebat dalam angka, tetapi juga tajam dalam narasi dan analisis. Instrumen kualitatif yang mulai berlaku pada tahun 2025 ini mencakup: Visi, Misi, Tujuan, dan Strategi. Kurikulum. Penilaian Pembelajaran. Mahasiswa. Dosen, Tendik, Penelitian, dan PkM. Sarana, Prasarana Pendidikan, dan Keuangan. Penjaminan Mutu. Tata Kelola dan Administrasi. “Target kita sangat jelas. Dengan sisa waktu menuju masa berlaku akreditasi pada Maret 2028, kita menetapkan target pengajuan dokumen pada September 2027. Kita harus bergerak dari ‘Baik Sekali’ menjadi ‘Unggul’ dengan menunjukkan bukti nyata adanya perbaikan mutu yang berkelanjutan (Continuous Quality Improvement),” tegas Dr. Rina. Dalam paparannya yang komprehensif, Prof. Daryono merinci bagaimana setiap aspek tri dharma harus bernafaskan internasionalisasi. Dimulai dari Kriteria 1 (VMTS), di mana visi keilmuan prodi harus memiliki keunikan dan ciri khas yang memberikan nilai lebih dibandingkan institusi lain. Pada aspek Kurikulum (Kriteria 2), Prof. Daryono mendorong adopsi penuh Outcomes Based Education (OBE) dan Learner-Centered Education (LCE). Kurikulum farmasi masa depan harus dirancang berdasarkan apa yang mampu dilakukan siswa setelah lulus, bukan sekadar apa yang diajarkan dosen. Hal ini didukung oleh sarana prasarana (Kriteria 6) yang harus memenuhi standar laboratorium pendidikan sesuai standar APTFI serta memiliki instrumen penelitian tingkat lanjut. Lebih jauh, profil lulusan (Kriteria 3 & 4) diharapkan memiliki reputasi tinggi melalui capaian uji kompetensi (first taker) di atas 80% dan keterlibatan aktif dalam jejaring mahasiswa internasional. Sementara untuk dosen dan penelitian (Kriteria 5), publikasi internasional pada jurnal bereputasi (Scopus/WoS) dan riset kolaboratif global menjadi indikator mutlak prodi yang “Unggul”. Salah satu poin menarik yang ditekankan dalam pelatihan ini adalah pentingnya prinsip “Lakukan apa yang sudah ditulis, dan tulis apa yang akan dilakukan”. Prof. Daryono mendorong digitalisasi seluruh aktivitas, termasuk Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI), serta penerjemahan dokumen SOP ke dalam Bahasa Inggris untuk mendukung ekosistem internasional. Budaya mutu bukan hanya soal administratif, tetapi intervensi sistematik untuk perbaikan berkelanjutan. Dengan mengadopsi model Closed Loop Cycle, setiap temuan dari audit mutu harus segera ditindaklanjuti untuk pengembangan standar yang lebih tinggi di masa depan. Menutup rangkaian pelatihan, Prof. Daryono membagikan refleksi mendalam mengenai keberlanjutan sebuah universitas. Beliau merujuk pada universitas-universitas tertua di dunia seperti Al-Qarawiyyin (859) dan Oxford (1096) yang mampu bertahan lintas zaman karena memiliki visi yang kuat, kepemimpinan yang berkomitmen, serta kemampuan untuk terus beradaptasi dengan perubahan. “Perubahan itu memang sulit di awal, berantakan di tengah, tetapi akan berbuah keindahan di akhir,” pungkasnya mengutip Robin Sharma. Melalui pelatihan ini, Prodi Farmasi dan Pendidikan Profesi Apoteker UMM telah memancangkan bendera perubahan. Dengan semangat “Man Jadda Wa Jada”—siapa yang bersungguh-sungguh, maka pasti akan berhasil—UMM optimis dapat melahirkan pemimpin masa depan di bidang farmasi yang tidak hanya produktif secara ekonomi, tetapi juga kritis, berempati, dan diakui dunia internasional.